Iya, kita selalu berbicara berdasarkan sudut pandang masing-masing. Gilanya lagi, kita selalu merasa sudut kitalah yang paling benar. Perbedaan, politik, pandangan, sampai pedoman agama juga demikian tergantung di sudut mana hari ini kita berada. Dan pada akhirnya, hanya waktu yang dapat membuktikan siapa di antara kita yang benar.
Blog ini tercipta atas dorongan hal di atas. Saya sering kali menjumpai peristiwa yang, bisa dibilang, membuat saya terlalu banyak menghakimi tanpa mencari dan berpikir dari sudut pandang yang berbeda. Banyak hal yang tadinya saya anggap benar ternyata salah di kemudian hari, begitu pun sebaliknya.
Saya mau bercerita sebentar. Jadi dulu, semasa saya SMA, saya punya guru yang begitu hebat. Beliau selalu mengajarkan, “Tulis, tulis apa pun yang kamu inginkan di buku, lalu silakan baca lagi tulisan itu di kemudian hari dan tandai keinginan mana saja yang sudah terkabul.” Dan tahu apa yang terjadi? Boom. Semua yang tadinya saya anggap mustahil pun, secara tidak sadar, sudah saya dapatkan.
Lalu apa hubungannya dengan tema di atas, yaitu “Sudut Mana”? Karena sampai saat ini saya masih heran, entah sudut pandang mana kesimpulan yang harus saya ambil untuk menceritakan itu. Sisi sains modern menyebutnya sebagai fenomena self-fulfilling prophecy, yaitu ketika kita menulis, maka saat itu terjadi yang namanya penerapan sugesti. Sugesti sendiri bisa menjadi kenyataan karena otak merespons sugesti dari tulisan seolah-olah hal tersebut nyata, yang kemudian memengaruhi pola pikir, emosi, tindakan, dan respons fisik seseorang. Lebih lanjutnya, pikiran bawah sadar menerima ide tersebut dan memprogram ulang perilaku untuk mewujudkannya. Tentunya, dari sudut pandang berbeda, kita tidak perlu menulis karena sugesti bisa langsung kita dapatkan dari obrolan, baik dari diri sendiri maupun orang lain.
Sebelum menarik kesimpulan, tidak afdal jika saya tidak melampirkan sisi sains naqli, yaitu sudut agama. Disclaimer dulu, saya di sini menyebut sains modern dan sains naqli (wahyu Ilahi) karena saya tidak setuju menyebut pengetahuan yang didapat ribuan tahun lalu yang sementara pembuktian ilmiahnya datang kemudian, seperti bagaimana proses pembentukan bayi dalam Al-Qur’an lantas disebut sebagai pengetahuan kuno dan buatan manusia. Jadi ini menegaskan posisi saya sebagai penulis: saya tidak akan keluar dari keyakinan itu meski membahas banyak sudut pandang.
Kembali pada cerita saya tentang menulis keinginan yang ternyata, tanpa saya sadari, sudah terwujud dari sudut pandang sains aqli. Saya mulai dengan firman-Nya, “Demi pena dan apa yang dituliskannya” (Q.S. Al-Qalam [68]: 1). Firman ini sangat menarik, dan ada keistimewaan yang begitu besar tentang menulis, yaitu Allah sebagai Tuhan kita sampai tegas dengan kalimat sumpah-Nya. Guru spiritual saya bahkan pernah mengatakan, saat kita menulis, tangan dan mata bergerak; bahkan lebih baik lagi jika kita membacanya kembali: mulut berucap, telinga mendengar, hati dan pikiran mencerna, dan malaikat mengaminkan. Sungguh luar biasa, bukan? Satu kegiatan yang begitu mulia.
Kesimpulannya, secara tidak langsung Anda sebagai pembaca ikut berpikir tentang dua sudut pandang yang saya uraikan di atas. Tentunya saya berharap Anda bisa lebih bijak dalam menghakimi dan menentukan sudut mana yang akan Anda ambil, atau bahkan keduanya pun bisa Anda terima untuk kemudian menarik satu sudut yang lebih ideal.


komentar pertama, yuk diskusi
BalasHapus